Group's posts with tag: bandung
Tidak cukup bermain dengan anak domba di Villa Domba, si kecil Rama anak penulis yang mana Insya Allah akan memiliki adik di bulan Desember nanti menagih janji manakala berlibur ke Bandung untuk berkunjung ke Neqtasari Farm kepunyaan kang Budhi di Ciwidey, ”Papah khan janji sama Rama untuk ke tempat susu kambing.” demikian ucapnya. Bersama isteri penulis dan adik maka meluncurlah Kami ke Neqtasari Farm di Ciwidey yang jaraknya hanya kurang lebih 30 menit dari Villa Domba. Tampak si kecil Rama bersama Chrismantoro rekan kerja penulis sedang bermain dengan si Bayu anak Kambing PE yang masih berusia 10 hari. ”Lain dengan domba, anak Kambing PE ukuran tubuhnya memang lebih besar awalnya saat lahir dibandingkan dengan anak domba.” demikian penjelasan kang Budhi yang mana beliau adalah senior penulis dalam usaha ternak kambing domba, mohon doa di mana kang Budhi dan kelompok peternak Kambing PE Neqtasari kebanggaan kabupaten Soreang, Bandung provinsi Jawa Barat Insya Allah tahun ini akan mewakili provinsi Jawa Barat ke perlombaan peternak tingkat nasional. Tampak Kang Budhi bersama si Bomba.  Lucunya si Bayu hingga pada akhirnya si kecil Rama pun merengek untuk membawanya dipelihara di Villa Domba. ”Nanti saja 2 minggu lagi, kasian masih kecil umurnya.” ucap kang Budhi. ”Villa Domba nanti bisa ditambah nama menjadi Villa Domba Kambing bila sudah ada si kecil Bayu”. ucap kang Alam sembari bergurau. Tampak gambar isteri penulis dan adik sedang melihat si kecil Bayu manakala diberikan susu sapi melalui dot. Si kecil Bayu pun kembali masuk ke Inkubator setelah hari menjelang sore. Benar-benar liburan yang menyenangkan dengan mengajak keluarga berkunjung ke Neqtasari Farm, kemudian pulangnya pun jangan lupa membeli susu kambing. Silahkan menghubungi kang Budhi melalui Email. jbudhi@gmail.com untuk kunjungan ke Neqtasari Farm. Mohon doa dan dukungan, Insya Allah tengah dipersiapkan program kemitraan antara Villa Domba dan Neqtasari Farm di Ciwidey terkait usaha ternak pembibitan dan penggemukkan Domba Garut. Silahkan KLIK Video berikut, si kecil Rama di Villa Domba dan Neqtasari Farm:
Rama di Villa Domba (1) http://www.youtube.com/watch?v=hn7LoGMglw8
Rama di Villa Domba (2) http://www.youtube.com/watch?v=i-pdxhH2oqg
Rama di Neqtasari Farm (1) http://www.youtube.com/watch?v=QlEN-zIUNn0
Rama di Neqtasari Farm (2) http://www.youtube.com/watch?v=UXUWtnrlJqw http://www.dombagarut.blogspot.com
Ketika penulis sedang men search data terkait Domba Garut belum lama ini, sebuah blog menarik diperoleh dan menyajikan banyak informasi bermanfaat terkait Domba Garut khususnya Seni Ketangkasan dan budaya Indonesia, http://uun-halimah.blogspot.com/2008. Berikut beberapa informasi yang penulis peroleh: Adu Domba, sekarang lebih tepat disebut Seni Ketangkasan
Adu Domba, ngadu domba, munculnya permainan ngadu domba belum diketahui secara pasti. Namun apabila didasarkan pada rangkaian peristiwa asal-usul domba aduan yang konon berasal dari Kampung Cibuluh, Garut, diperkirakan permainan ngadu domba dimulai sekitar tahun 1931-1932. Waktu itu penyelenggaraan dilaksanakan di lapangan Bunisari yang terletak di Kampung Cibuluh. Selang beberapa lama, pindah ke lapangan Babakan kemudian ke sebuah lapangan yang sekarang menjadi lapangan Kostrad. Istilah ngadu domba merupakan sebuatan masyarakat umum, sedangkan di kalangan penggemar domba aduan sendiri dahulu dikenal istilah lain, yaitu ngaben dan pamidangan. Kata ngaben berasal dari kata aben yang artinya “adu”. Kata tersebut mengalami proses nasalisasi menjadi “ngaben” yang artinya sama dengan kata “ngadu”. Karena pada praktiknya ngaben cenderung mengarah pada “perjudian” yang sering menimbulkan perkelahian antarpemilik ataupun penonton, maka nama tersebut diubah menjadi pamidangan yang berasal dari kata “pidang” artinya “tampil”. Kemudian kata tersebut mendapat sisipan “am” menjadi pamidangan yang bermakna tempat. Jadi, pamidangan berarti “menampilkan” atau “tempat penampilan”. Istilah tersebut dipakai hingga sekarang. Istilah pamidangan cenderung ke arah bisnis sebab permainan ini semata-mata dilakukan untuk mempromosikan dan meningkatkan harga jual domba aduan sehingga penjualan domba tidak berdasarkan besar-kecilnya domba, namun ditentukan oleh nilai-nilai keindahan domba, baik tanduk, bulu maupun keindahan gerak otonya saat bertanding. Kendang Pencak
Di samping lapangan dan kelengkapannya, dalam permainan ngadu domba digunakan pula seperangkat tatabuhan (waditra) yang menjadi ciri khasnya. Kelengkapan tersebut berupa peralatan kesenian kendang penca untuk mengiringi permainan. Kendang Penca merupakan salah satu jenis kesenian tradisional di Jawa Barat yang hingga kini masih digemari oleh masyarakat pedesaan. Penyebarannya hampir di semua kabupaten di Jawa Barat, seperti Kabupaten Ciamis, Sumedang, Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Sukabumi, Serang, Tanggerang, Pandeglang, Karawang, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Bandung, Bogor, Bekasi, dan Garut. Pada mulanya, Kendang Penca berfungsi sebagai pengiring pada seni beladiri pencak silat. Pada perkembangannya, Kendang Penca digunakan pula sebagai pengiring dalam permainan rakyat ngadu domba dengan jenis-jenis pukulan kendang seperti yang berlaku dalam pencak silat. Keterlibatan jenis kesenian ini dalam penyelenggaraan permainan ngadu domba memiliki latar belakang historis, yaitu mungkin karena dahulu yang membawa dan mempertandingkan domba sebagian besar adalah para pesilat dan jawara. Dilihat dari segi lain, sifat dan isi permainan yang diiringinya tidak jauh berbeda dengan pencak silat, hanya pelakunya yang berlainan, yaitu domba. Di samping itu, pertarungan tersebut akan lebih hidup apabila diiringi Kendang Penca dan karena permainan ini merupakan hiburan, maka Kendang Penca tetap dipakai untuk menyemarakkan suasana dalam permainan. Sebenarnya, waditra dalam Kendang Penca tidak hanya kendang saja, tetapi masih terdapat yang lainnya. Mungkin karena fungsinya yang paling dominan di antara waditra lain, maka kesenian ini dinamakan Kendang Penca. Waditra selengkapnya di dalam Kendang Penca terdiri atas: dua buah kendang, dua buah kulanter (kendang kecil), sebuah tarompet, dan sebuah goong kecil (kempul atau bende).
Tentang Domba Garut
Konon menurut cerita, orang pertama yang telah berhasil mengembangkan domba-domba berkualitas baik untuk pamidangan di Garut adalah Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa dengan teman seperguruannya yang bernama H. Soleh. Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa, seorang Bupati Garut yang telah memimpin pada periode 1915-1929, mempunyai kegemaran berburu dan memelihara domba. H. Soleh yang tinggal di Cibuluh juga gemar memelihara domba. Saat itu perkampungan Cibuluh belum padat seperti sekarang ini, serta keadaan sekitarnya masih berupa hutan belantara.
Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa sering berkunjung ke sana, selain untuk berburu juga mengunjungi sahabatnya itu. Dalam tiap kunjungannya, beliau memperhatikan pula cara sahabatnya menangani domba-domba peliharaannya, mulai dari pengandangan, pemberian makanan sampai pemilihan bibit. Adapun cara pemeliharaan yang dilakukan oleh H. Soleh saat itu dinilainya kurang baik. Misalnya, domba jantan dan betina ditempatkan dalam satu kandang, pemberian makanan (rumput) hanya pada saat digembalakan, dan tidak ada seleksi dalam mengawinkan domba.
Pada suatu hari, ketika sedang mengunjungi H. Soleh, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa melihat seekor domba betina bertanduk lebih bagus dibandingkan dengan yang lainnya. Ketika mengetahui bahwa domba yang akan meneruskan keturunannya adalah domba jantan biasa seperti pada umumnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa yang kebetulan memiliki domba jantan bernama Si Dewa, mengusulkan domba H. Soleh yang dipanggil Si Lenjang dikawinkan dengan Si Dewa. Ide ini muncul mengingat Si Dewa memiliki nilai lebih daripada domba-domba Cibuluh, maka dianggap dapat meneruskan keturunan yang lebih baik. Disamping itu, dengan mengawinkannya dengan Si Dewa, kelebihan Si Lenjang dapat berkelanjutan pada keturunannya.
Selanjutnya, Kangjeng Dalem Suryakarta Logawa membawa Si Dewa ke Kampung Cibuluh untuk dikawinkan dengan Si Lenjang. Beberapa bulan kemudian, lahir domba jantan dan betina. Domba jantan diberi nama Si Toblo, sedangkan yang betina tidak diberi nama. Selain itu dengan Si Lenjang, Si Dewa dikawinkan pula dengan domba betina lain sehingga keturunannya bertambah banyak. Ketertarikan masyarakat akan kegagahan dan kelincahan domba sejak adanya Si Dewa, telah memotivasi para penggemar domba untuk mengadakan hiburan rakyat berupa pertandingan domba yang disebut Ngaben, baik di Cibuluh-Garut maupun di Sumedang.
Khusus di Cibuluh, pernah diabenkan anak Si Dewa melawan anak Si Toblo dari Sumedang yang telah dibeli oleh seorang peternak Cibuluh. Kekuatan mereka seimbang sehingga tidak ada yang menang atau kalah. Hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran para penggemar domba adu. Di antaranya, di Bunisari ada seorang bernama Aki Intasik yang ingin memiliki domba untuk menandingi kedua domba tersebut. Caranya dengan membeli Si Toblo dari Sumedang dan mengawinkannya dengan domba betina miliknya yang dipercayakan pemeliharaannya kepada orang lain, yaitu Mang Atori di Cimanyar. Usahanya tersebut tidak sia-sia karena dari perkawinan tersebut lahir dua pejantan, yaitu Si Joki dan Si Jonas. Sebelum dibawa pulang oleh Aki Intasik, Si Jonas dipertahankan oleh Mang Atori karena merasa berhak atas domba tersebut yang telah dipeliharanya. Namun akhirnya, Si Jonas dibeli oleh Aki Intasik. Meskipun kedua domba tersebut secara fisik memenuhi syarat sebagai domba aduan, ada kelebihan lain pada Si Joki, yaitu memiliki tanduk “cerah”. Hal ini membuat Si Joki dijual ke Cikeris/Cikandang untuk dikembangbiakkan. Namun sebelum dijual, baik Si Joki maupun Si jonas, dikawinkan dengan domba-domba betina setempat (Bunisari) sampai beranak-pinak. Seperti halnya induknya, keturunan Si Joki dan Si Jonas, memiliki kehebatan luar biasa sebagai domba aduan.
Baik keturunan Si Joki dari Cikeris maupun keturunan Si Toblo dari Sumedang, semuanya diakui sebagai domba Garut karena bibitnya berasal dari Cibuluh. Mereka merupakan potensi domba adu di Kabupaten Garut yang telah turut mengangkat permainan rakyat khas Jawa Barat ini tidak saja ke tingkat provinsi, tetapi juga ke tingkat nasional melalui kontes-kontes sejak tahun 1985 di Cikeris hingga sekarang. Sebagai hewan yang dipersiapkan untuk bertanding, domba aduan memiliki kelebihan khusus dibandingkan dengan domba biasa. Hal ini berkat adanya kecakapan dalam pemeliharaan dan pemilihan bibit yang pada umumnya diperoleh secara turun-temurun. Untuk menentukan domba yang akan dijadikan sebagai hewan adu, terlebih dahulu harus mengetahui berbagai persyaratannya, meliputi keadaan fisik, pemeliharaan, dan pantangan-pantangannya. Klik Blog: http://www.dombagarut.blogspot.com
Lagu Pop Sunda yang dinyanyikan oleh Erna Arsylia.. lagu Asmara ini diciptakan oleh Nano S. dan Aransemen Musik oleh Theo P. Video.avi (11.5 MB)
Pop Sunda oleh Erna Arsylia.. lagu ini diciptakan oleh Wiharlan.
Selamat menyaksikan...
^_^ Video.avi (10.8 MB)
Lagu pop sunda hits pertama dari Erna Arsylia.. lagu ini diciptakan oleh Wiharlan dan aransemen musik oleh Theo P. Video.avi (11.2 MB)
Bagiku ini bahasan menarik. Ini disampaikan oleh dosen Konsep Teknologi dan yang kutulis di sini ulasan dari apa yang disampaikan beliau. Ada nilai-nilai kearifan di sini.
Jadi begini, orang Sunda dulu itu punya pemahaman tersendiri dengan alam khususnya "leuweung". Kata "leuweung" bisa memiliki makna tersendiri bagi orang Sunda ketimbang kalau itu disebut "hutan". Karena di Jawa Barat itu banyak pegunungannya, mereka membagi-bagi konsep "leuweung" ke dalam tiga bagian, yaitu "leuweung tutupan", "leuweung titipan", dan "baladaheun".
"Leuweung tutupan" itu letaknya ada di puncak pegunungan dan itu merupakan hak alam. Apa maksudnya? Daerah sama sekali tidak boleh diganggu untuk tempat tinggal manusia khususnya orang Sunda. Hak alam ini merupakan hak yang dimiliki alam untuk melakukan aktivitasnya dan itu juga berpengaruh pada kehidupan manusia. Secara ilmiah, itu bisa digambarkan dengan tempat berkumpulnya awan-awan. Kenapa Bandung dulu bisa dingin? nah, itu karena di puncak-puncak gunungnya masih banyak pohon. Jadinya banyak awam yang berkumpul. Dan karena awan itu membawa uap air, makanya suhu di sekitarnya jadi dingin. Awan juga dapat mengendalikan iklim regional. Kenapa tempat tinggal ini tidak boleh jadi tempat tinggal manusia? Karena kalau ditempati jadi lahan pemukiman jumlah maka otomatis lahan hutan jadi berkurang. Hutan berkurang, awan yang berkumpul juga berkurang. Jadinya, suhu meningkat dan yang buruknya iklim regional bisa terganggu. Yang menarik dari sini adalah ternyata banyak mitos-mitos Sunda yang berisikan hal-hal mistis berkaitan dengan keberadaan "leuweung tutupan", misalnya ada dedemit atau ada "penjaganya" yang menyebabkan orang jadi enggan kalau mau ke sana. Pernah ada juga cerita mengenai makam orang kerajaan sebagai "penjaga" di sana. Ternyata itu makam kosong sebenarnya! Kalau ditarik ke filosofisnya itu bisa saja usaha dari melindungi keberadaannya dari tangan-tangan manusia. Toh, Tanah Sunda juga pernah dipegang oleh kerajaan yang hebat. Tentunya ada raja yang memimpin tidak sembarangan. Biasanya di budaya tradisional, yang menjadi pemimpin atau kepala adat haruslah memahami keadaan alamnya itu sendiri.
"Leuweung Titipan" berada di tengah-tengah pegunungan. Namanya titipan, maka harus dijaga kelestariannya. Di sini, manusia boleh mengambil hasil alam tapi sebatas madu, getah, rotan, dan lainnya. Seperlunya, benar-benar seperlunya untuk kelangsungan hidup manusia. Dan tetap dijaga keberadaannya. Orang Sunda tidak dianjurkan untuk menggunakan lahan ini sebagai lahan pemukiman.
"Baladaheun". Nah, di sini seharusnya orang Sunda tinggal, di kaki gunung dan dataran rendah. Di sinilah hak untuk manusia tinggal, beraktivitas dan berinteraksi. Dan tak lupa merencanakan kelestarian alamnya.
Saya ingat dosen saya bertanya seperti ini, "Bagaimana dengan orang Sunda yang membangun rumah-rumah di atas bukit? di Puncak?". Di pikiran saya terlintas "orang Sunda murtad ya?!" Tetapi, beliau menambahkan mungkin memang ada yang hilang dari penurunan nilai-nilai budaya Sunda. Jadinya seperti itu. Sayang sekali ya kalau begitu. Maka dari itu, pelestarian nilai-nilai budaya itu juga perlu karena di antaranya, sebenarnya, sudah ada konsep yang sesuai untuk pemeliharaan alam. Kadang-kadang saya berpikir, mungkin kita terlalu banyak dicekoki buku-buku teks barat sehingga kita menjadi lupa akan keberadaan budaya luhur kita sendiri. Padahal isi di dalamnya belum tentu sesuai dengan keberadaan kita. Atau kita kelamaan dijajah Belanda?
Link: http://ivanhenares.blogspot.com/2007/06/halo-halo-bandung.htmlI finally arrived in Bandung after an eight hour train ride from Yogyakarta. If Yogya is the cradle of Javanese culture, Bandung is said to be the cradle of Sundanese culture. The weather was a bit cooler since Indonesia's fourth largest city is 2,520 feet above sea level. And because it's closer to the equator, average temperatures don't vary much from a low of 22.9 C in July to a high of 24.2 C in May. The city is known for its large collection of Dutch colonial and tropical Art Deco structures. And thus, I decided to take a walk around Bandung even just for a few hours to check them out.
| |