Ketika akhirnya Sheba menerima pinangan Sulaiman, Raja Muda Ursyalim yang telah memiliki limapuluhsembilan selir itu sedang menghadapi goncangan di negerinya. Berhari-hari lamanya Ratu Sabaeeya menunggu dalam ketidakpastian. Sementara itu, banyak pula penguasa negeri lain yang bermaksud menyunting dan bahkan tak ragu untuk menjadikan Sheba sebagai satu-satunya perempuan dalam hidup mereka.
Penantian dan ketidakpastian yang melelahkan itu berakhir tatkala Sulaiman menjemput Sheba pada suatu pagi, di puncak kegamangan yang hampir menggerus harapan. Esoknya, mereka menuju Ursyalim dalam satu hari yang luar biasa.
Namun, selain Raja Daud dan segelintir orang, kehadiran Sheba hanya disambut dingin oleh para penghuni istana. Di sisi lain, Sulaiman dihadapkan pada kedengkian Absyalum, abang tertuanya yang berambisi menggantikan Daud sebagai Raja Ursyalim. Pemberontakan terjadi, dan mereka pun hidup dalam pengasingan, yang bertambah pedih tanpa hadirnya seorang putra.
Bagaimanakah mereka menghadapi ujian-ujian cinta yang memberatkan itu? Mengapa pula Sulaiman begitu besar cintanya kepada Sheba? Bagaimana dengan akhir pemberontakan Absyalum? Apa saja yang telah dilakukan Sulaiman dan Sheba sampai-sampai kisah mereka diabadikan dalam Al-Qur’an?
Kisah cinta Sulaiman dan Sheba digulirkan secara menarik oleh Waheeda El Humayra. Pembaca tidak hanya diajak mengenal orang-orang besar di masa itu, tapi juga dibawa menuju peristiwa-peristiwa besar dan diseret ke dalam lorong waktu untuk merasakan suasana Yaman & Jerusalem tigaribu tahun yang lalu.
review selanjutnya, tunggu yaa...
trims